Sabtu, 17 November 2012

Forum Pemimpin Redaksi Tolak Intervensi


Ilustrasi. Uni Zulfiani Lubis anggota Dewan Pers sedang berbicara dalam acara Pelatihan Microsoft yang diadakan Dewan Pers. (9-10|11|2012)

“Ada kesadaran kolektif untuk menjaga independensi.” 

-Wahyu Muryadi 

Di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta, 18 Juli lalu, sebanyak 55 pemimpin redaksi dari berbagai daerah mendeklarasikan terbentuknya Forum Pemimpin Redaksi (Indonesian Chief Editors Forum). Pembentukan Forum ini, menurut Wahyu Muryadi, berangkat dari kesadaran terhadap banyaknya persoalan kebebasan pers dan ekspresi di Indonesia yang harus disikapi bersama.

“Ada kesadaran kolektif untuk menjaga independensi,” kata Wahyu Muryadi yang ditunjuk sebagai Ketua Pengurus. “Dengan adanya Forum ini, kita ingin menegaskan, harusnya redaksi bebas dari campur tangan apapun, termasuk pemilik media.”

Wahyu menegaskan hal itu saat menjadi pembicara dalam program “Dewan Pers Kita” yang disiarkan TVRI Nasional, Selasa malam (24/7). Dialog yang dipandu Wina Armada Sukardi ini juga menghadirkan pembicara Margiono (Ketua Umum PWI dan Anggota Dewan Pers), serta Meutya Hafid (Anggota Komisi I DPR).

Pembentukan Forum Pemred, menurut Wahyu, tidak diniatkan untuk pamer kekuatan atau menyeragamkan pendapat para pemimpin redaksi. “Tidak ada kaitan dengan penyeragaman. Kita berhimpun karena kesadaran kolektik dengan tetap menghormati independensi redaksi masing-masing,” tegasnya.

Margiono menanggapi positif pembentukan Forum Pemred sebagai bentuk kesadaran di tengah banyaknya persoalan dan tantangan pers. Ia mendorong Forum untuk fokus pada perbaikan kualitas, integritas dan profesionalisme wartawan.

“Kalau forum ini mampu menjadikan pemred profesional, ke bawah (wartawan) akan semakin gampang,” katanya.

Ia tidak menganggap pembetukan Forum Pemred disebabkan organisasi wartawan yang ada dianggap tidak berdaya. Melihat persoalan pers saat ini, menurutnya, memang perlu ada komunikasi di tingkat para pimpinan redaksi.

“Yang terpenting bagaimana produk jurnalistik tetap baik dan bermanfaat untuk publik,” tambahnya.

Meutya Hafid mengapresiasi pembentukan Forum Pemred dan menilainya sebagai bentuk kesadaran wartawan atas kekurangannya serta berusaha melakukan pembenahan. “Langkah yang patut diapresiasi betul,” tegasnya.

Ia menambahkan, wartawan sekarang sepatutnya tidak hanya bicara masalah intervensi dari luar, namun juga melihat problem internal terutama menyangkut sumber daya manusia. Forum Pemred harus menjadikan persoalan internal ini sebagai prioritas kerja. (red)


DEKLARASI FORUM PEMRED

Kami para pemimpin redaksi media massa Indonesia menyatakan:

Pers Indonesia adalah pers yang menjunjung tinggi prinsip independensi dari pengaruh kekuasaan, kelompok kepentingan, kekuatan ekonomi, dan pihak-pihak lainnya. Pers Indonesia sepenuhnya diabdikan bagi kemajuan masyarakat atas dasar demokrasi, keadilan sosial, kemanusiaan, dan kesetaraan.

Oleh sebab itu, kebebasan pers adalah keniscayaan bagi tercapainya cita-cita luhur proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun pelaksanaan kebebasan pers masih terus menghadapi tantangan dan hambatan dari berbagai pihak. Pembunuhan wartawan, kriminalisasi pers dan wartawan, pelecehan terhadap institusi dan profesi wartawan, dan masih rendahnya pengakuan terhadap pers merupakan fakta yang harus terus dilawan bagi tercapainya misi suci pers dan kewartawanan.

Kami para pemimpin redaksi media massa Indonesia mengakui kehidupan pers dan wartawan Indonesia masih harus terus ditingkatkan dari berbagai segi. Namun hal itu bukan menjadi pembenar atas kesewenang-wenangan terhadap pers. Juga bukan merupakan pembenar bagi terhambatnya peran serta pers dan wartawan Indonesia bagi kemajuan masyarakat.
Melalui Deklarasi Forum Pemred ini, kami para Pemimpin Redaksi media massa Indonesia menyatakan:

  1. Menjunjung tinggi independensi kebijakan redaksi dari berbagai kepentingan di luar prinsip-prinsip jurnalisme.
  2. Memperjuangkan kebebasan berekspresi dan kebebasan pers bagi kemajuan masyarakat.
  3. Mengabdikan diri bagi kejayaan bangsa dan negara
  4. Melawan segala bentuk penistaan, pelecehan, dan kriminalisasi pers dan wartawan.
  5. Membentuk Forum Pemimpin Redaksi atau Indonesian Chief Editors Forum
JAKARTA, 18 JULI 2012

DEKLARATOR 55 PEMIMPIN REDAKSI
Daftar Pengurus

Penasehat
Karni Ilyas (TV One)
Asro Kamal Rokan (Jurnas)
Elman Saragih (Metro Tv)
Timbo Siahaan (JakTV)
Suryopratomo (Metro TV)

Pengawas
Ilham Bintang (Cek & Ricek)
Andi Suruji (Inilah.com)
Uni Lubis (ANTV)
Don Bosco Selamun (BeritaSatu TV) ï‚—Kemal Efendi Gani (SWA)

Pengurus Harian
Ketua: Wahyu Muryadi (TEMPO)

Wakil Ketua
Rikard Bagun (KOMPAS)
Saiful Hadi (ANTARA)
Heddy Lugito (GATRA)
Gatot Triyanto (TRANS TV)
Meidyatama Suryodiningrat (THE JAKARTA POST)
Primus Dorimulu (INVESTOR DAILY)
Nurjaman Mochtar (INDOSIAR)
Khairul Jasmin (SINGGALANG)

Bendahara
Sururi Alfaruq (SEPUTAR INDONESIA)
Don Kardono (INDOPOS)
Titin Rosmasari (TRANS 7)
Ratna Susilowati (RAKYAT MERDEKA)
Muhammad Iksan (WARTA EKONOMI)

Sekretaris
Eko B Supriyanto (INFOBANK)
Marten Selamet Susanto (KORAN JAKARTA)
Arifin Asydhad (DETIKCOM)
Akhmad Kusaeni (ANTARA)
Nasihin Masha (REPUBLIKA)




Editor: Yudi Dwi Ardian
Sumber: dewanpers.or.id

Berita Davina

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Pedoman Komentar

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik.
Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu.

Komentar yang baik, berikan jempol atas.

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik.

Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar :)