HEADLINE NEWS

HAMPIR TIDAK ADA PARTAI POLITIK WAKILI KEPENTINGAN RAKYAT

HEADLINE NEWS

DUKUNGAN ISTERI UNTUK SURYADHARMA ALI

HEADLINE NEWS

KOMUNITAS BROKER PROPERTI NO. 1 DI INDONESIA

HEADLINE NEWS

INILAH DAFTAR LOKASI GESTUN SELURUH INDONESIA

HEADLINE NEWS

DA VINA WEB, JASA PEMBUATAN WEBSITE ANDA

Selasa, 06 Mei 2014

FOMO "Fear of Missing Out" dan Crowd Leadership

Banyak penyakit psikologis yang berhubungan dengan masalah sosial yang timbul di alam modern atau digital ini, yang sebenarnya bukan penyakit baru. Narsisme, sebagai contoh sebuah 'penyakit sosial'. Dulu, ‘narsis’ diartikan sebagai gejala psikologis yang dihindari. Tetapi sekarang dari sisi yang berbeda, bisa dikatakan bahwa tanpa modal narsis, tidak mungkin seseorang bisa eksis.

Narsisme Sehat atau bisa disebut narsisme dalam koridor yang bisa ditoleransi secara positif, tidak berlebihan, tetapi tetap hasilkan eksposur yang diharapkan. Selebriti baru di dunia social yang bina personal brandnya dengan baik dan kemudian didaulat jadi endorser-buzzer hasilkan income lumayan.

Gejala masalah sosial atau psikologis lain yang juga bermetamorfosa di dunia baru, dunia digital ini disebut FOMO – ‘Fear of Missing Out’. Ini sebuah bentuk social anxiety, kegelisahan seseorang yg kuatir akan ketinggalan kesempatan untuk berinteraksi social dan tahu hal baru. Andrew K. Przybylski Ph.D. dalam studinya menemukan bhw FOMO adalah kondisi psikologis yang dialami oleh orang-orang yang selalu ingin dihargai. Gejala ini terasa percepatannya pada saat interaksi antar individu semakin mudah dan instant dengan bantuan teknologi.

Jadi, bila seseorang berada ‘berjauhan’ dengan gadget membuat seseorang tersebut menjadi anxiety, gelisah. Orang dengan gejala FOMO kuatir akan tertinggal berita menarik atau tertinggal cerita seputar kehidupan di social networknya. Lazim terjadi di orang-orang yang seolah sudah tidak bisa dilepaskan dari gadgetnya. Lebih baik tertinggal dompet daripada tertinggal gadget. Ini gambarkan tingkat ketergantungan yang hebat terhadap ‘what is going on’ di alam seputar network mereka yang sudah lekat di genggaman.

Seperti halnya narsis yang sebelumnya hanya negatif, FOMO bisa dilihat sebagai hal negatif bila dilihat dari satu sisi saja. Di alam modern seperti sekarang ini, kecintaan dan penghargaan ternyata disalurkan melalui media social seperti facebook, twitter, instagram dan path. Gejala FOMO justru aspek positif, merupakan sebuah kesempatan bagi brand yang ingin selalu ‘berdekatan’ dengan audiencenya. Dan fenomena FOMO ini yg harus dipelajari secara menyeluruh positif negatifnya dan dipergunakan secara positif untuk pemahaman Marketing communication atau marcom.

Fenomena FOMO bisa kita kaitkan dengan Pengelolaan Content ala Crowd sourcing. Seperti yang kita tau, content social media adalah segalanya. Sedemikian banyaknya Content produced by brand owner dan para user nya serta konsumen biasa, maka traffic jadi tinggi dan hectic. Tidak lagi semudah dulu untuk menarik perhatian audience, membaca content dari website brand, facebook brand bahkan twitter nya.

Kompetisi content semakin merajalela, luar biasa. Bagaimana menyikapinya?

Manfaatkan situasi FOMO dari audience secara positif sama artinya dengan melibatkannya secara aktif untuk isi content di media dan account brand. Secanggih apapun pengelola socmed brand – akan sangat lelah dan habis kreatifitasnya bila harus menjadi sumber satu-satunya content. Tingkat engagement di account social medianya brand akan rendah apabila hanya one-way interaction saja, boring.

Brand dan Pengelola Social Media Brand tidak lagi harus menjadi sosok yang tau segala-galanya tentang content. Saat ini berkembang Crowd sourcing, penggalangan pengetahuan dan diskusi dari berbagai sumber, expert di bidangnya dan audience bias memberikan space kepada mereka akan menghasilkan double benefit. Pertama, sumber berita menjadi tidak ada habis-habisnya. Engagement tinggi. Diskusi berjalan lancar. Kedua, content yang berasal dari Audience punyai daya tarik, tingkat confidence yang lebih tinggi, sebab bukan berasal dari pemilik brand.

Pengalaman konsumen yang dituangkan sebagai content sebuah Fan Page Facebook Brand, misalnya, berikan nilai tambah tersendiri bagi brand. Brand (melalui pengelola social media accoutnya) harus menjadi fasilitator interaksi antar audience. Di pasar yang bersaing ketat, kehidupan berkomunitas yang masih terasa kental, dan Brand harus punya peranan di dalam komunitas tersebut. Yang berkembang adalah group thought, dan ini difasilitasi melalui pengumpulan input dan content via Crowd Sourcing. Narasumber dari kalangan Expert bercerita dari sisi teknis dan keilmuan. Narasumber dari kalangan awam bercerita dari sisi User Experience. Bagi pembaca media, pengalaman pengguna justru kadang kala bernilai dibandingkan hanya dari ulasan-ulasan teknis keilmuan para expert.

User Experience merupakan modal utama ZMOT – Zero Moment of Truth. Pengalaman secara maya sebelum pengalaman interaksi langsung. Dgn perbanyak moment utk bercerita di facebook dan twitter, posting foto di Path dan Instagram, upload video di Youtube dan seterusnya. Dengan cerita-cerita seru, dan foto-foto yang seru-seru maka brand akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan "Crowd"nya.

Fear of Missing Out atau FOMO sebagai sebuah fenomena, mungkin bukan sesuatu yang baik jika berlebihan. Tetapi FOMO bila dikelola dengan baik, kegelisahan ini justru bisa menjadi kontributor terbesar di media yg disediakan oleh brand.


Penulis : Amalia E Maulana @etnoamalia 
Brand Consultant & Ethnographer - Agent of Change, 
Director, ETNOMARK Consulting - Your Insights Partner 

Rabu, 30 April 2014

Inilah Syarat Menjadi Member Indobroker


Inilah syarat yang harus dilengkapi jika ingin menjadi member Indobroker :

1. Isi  secara lengkap formulir pendaftaran onlinenya dibawah ini : >>> http://bit.ly/IndobrokerForm

2. Pilih posisi dan jumlah biaya pendaftaran sesuai yang Anda inginkan :
aMember (M) / Anggota : Rp 500.000,-/orang
b. District Manager (DM) / Koordinator Kab/Kota : Rp 2.000.000,-/orang
c. Area Manager (AM) / Koordinator Provinsi : Rp 10.000.000,-/orang

3. Lakukan pembayaran dengan transfer ke rekening dibawah ini :
           Bank Account : BCA
     Branch Account : Kemang - Jakarta Selatan
     Name Account : Wahyudi 
     Number account : 286-150-7477

4. Konfirmasi via SMS setelah melakukan pembayaran melalui transfer bank
    Kirim SMS : NAMA PENGIRIM_POSISI_KAB/KOTA_NOMINAL ke 0819-898-777

5. Setelah Anda melakukan pembayaran, maka kami akan mengirimkan :
     a. Kartu keanggotaan Indobroker/Indobroker Member Card (IMC)
     b. T-shirt keren Indobroker (1 bh)
     c. Buku “Cara Mudah Jadi Milyader Melalui Broker”
     d. Kartu Nama Executive yang disertai foto Anda (1 box) 
     e. Surat PJP (Perjanjian Jasa Pemasaran) Indobroker (1 bundel) 
      f. Spanduk MMT Dijual/Disewa atas nama dan disertai foto Anda (2 bh)
     g. Mendapatkan materi training broker properti secara lengkap

6. Fasilitas yang akan Anda dapatkan adalah sebagai berikut :
a.   Mendapatkan bimbingan dan konsultasi baik melalui telpon, sms, bbm,   whatsapp, facebook atau twitter selama 24 jam, 7 hari hingga berhasil menjual properti yang sedang Anda pasarkan
b.   Berhak memasarkan listing properti di Indobroker yang bernilai ratusan  milyar hingga trilyunan rupiah
c.    Berhak mengikuti acara yang diadakan oleh Indobroker maupun mitra Indobroker setiap sebulan sekali tanpa dipungut biaya apapun alias gratis dengan menunjukkan kartu keanggotaan Indobroker
d.   Mendapatkan sertifikat atau piagam penghargaan bagi member yang telah berhasil menjual properti selama bergabung di Indobroker
e.   Berhak mendapatkan komisi sebesar Rp 100.000,- sd Rp 2.000.000,- setiap berhasil mengajak teman Anda bergabung ke Indobroker

Informasi lebih lanjut silahkan hubungi : 0819-898-777 atau silahkan buka dan pelajari diwebsite kami berikut ini >>> www.indobroker.co.id

Kamis, 03 April 2014

"Nasionalisme Prabowo Luar Biasa, Jokowi Belum Teruji"

Prabowo Subianto (kiri) dan Joko Widodo (kanan). (Foto: KOMPAS.com)
Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Borobudur, Faisal Santiago, menilai nasionalisme bakal calon presiden dari PDI Perjuangan, Joko Widodo (Jokowi), belum teruji. Hal itulah yang membuatnya memilih untuk mendukung bakal calon presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto.
"Bukan saya mengecilkan, tapi saya belum melihat, nasionalisme Jokowi belum teruji," kata Faisal di sela-sela acara Deklarasi Dukungan Guru Besar dan Cendekiawan mendukung Prabowo sebagai calon presiden di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Rabu (2/4/2014).
Bagi Faisal, hanya Prabowo yang telah teruji memiliki nasionalisme yang tinggi. Salah satu alasannya ialah karena Prabowo memiliki latar belakang militer, sedangkan Jokowi, kata dia, pengalamannya hanya menjadi kepala daerah. Padahal, menurutnya, untuk memimpin bangsa, perlu pengalaman yang lebih besar dan jiwa nasionalisme yang teruji.
"Nasionalisme Pak Prabowo luar biasa, saya yakin dia enggak akan menjual aset negara," ujarnya.
Ia mengaku hadir dalam deklarasi mendukung Prabowo karena merasa tertarik dengan program yang diusung Partai Gerindra. Pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan dianggapnya sebagai alasan utama yang membuat banyak guru besar mendukung pencapresan Prabowo.
"Prabowo cocok dalam segala hal, beliau gigih dan akan membawa bangsa ini kembali berjaya. Saya berharap indeks sumber daya manusia kita juga akan ditingkatkan," ujarnya.

Sumber : KOMPAS.com
Editor : Mas Yudi Dua

Survei Polcomm: Jokowi, Prabowo, Aburizal Tiga Besar Capres

Joko Widodo (kiri), Prabowo Subianto (tengah), dan Aburizal Bakrie (kanan). (Foto: KOMPAS.com)

Survei "Potret Elektabilitas, Capres-Cawapres dan Mencari Sosok Cawapres Ideal" yang dilakukan Political Communication Institute menempatkan bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Joko Widodo sebagai kandidat capres dengan elektabilitas tertinggi. Jokowi dipilih oleh 31,2 persen responden. Menyusul di belakangnya, bakal capres dari Partai Gerindra Prabowo Subianto (19,2 persen) dan bakal capres dari Partai Golongan Karya Aburizal Bakrie (6,3 persen). 

"Jokowi masih yang tertinggi," ujar Direktur Political Communication Institute Heri budianto, saat memaparkan hasil survei lembaganya, di Jakarta, Kamis (3/4/2014).

Heri mengatakan, berdasarkan survei, yang menjadi magnet kuat bagi elektabilitas Jokowi adalah seringnya dia melakukan blusukan, tampil sederhana, dan bicara apa adanya. Sementara, Prabowo dinilai karena visinya yang ingin menciptakan Indonesia yang lebih kuat. Adapun Aburizal, menurut Heri, dipilih responden karena latar belakangnya sebagai seorang pengusaha dan mantan menteri.

Cawapres Jokowi, Prabowo, dan Aburizal

Sementara itu, mengenai akseptabilitas calon wakil presiden, disurvei sejumlah nama yang dipandang cocok untuk menjadi pendamping Jokowi, Prabowo, dan Aburizal.

Untuk Jokowi, Wakil Presiden 2004-2009 Jusuf Kalla dinilai memiliki akseptabilitas terbaik dengan 14,9 persen. Sementara di urutan kedua dan ketiga adalah Irman Gusman 11,1 persen dan Mahmud MD 10,3 persen. Menurut Heri, responden menilai Jusuf Kalla memiliki pengalaman pemerintahan dan memahami masalah ekonomi, serta respons cepat dalam mengambil keputusan.

Adapun, untuk cawapres Prabowo, nama yang muncul adalah Priyo Budi Santoso dengan 18,5 persen, Dahlan Iskan 13,6 persen, dan Jusuf Kalla 10,4 persen.

Menurut Heri, responden menilai Priyo Budi Santoso adalah tokoh muda, dan berpengalaman d ibidang politik.

Sedangkan Cawapres yang dinilai cocok mendampingi Aburizal Bakrie, menurut responden, adalah Pramono Edhie dengan 12,6 persen, Dahlan Iskan 11,4 persen, dan Ali Masykur Musa 10,3 persen.

"Responden menilai, Pramono yang merupakan mantan Militer, dan juga berasal dari Jawa, cocok dengan Aburizal yang berasal dari sipil dan bukan orang Jawa," ujar Heri.

Adapun, untuk elektabilitas partai, Heri menyebutkan, responden memilih PDI-P (23,1 persen), diikuti Partai Golongan Karya dengan 17,3 persen, dan Partai Gerindra dengan 7,7 persen. Heri mengatakan, berdasarkan hasil survei, PDI-P mampu meraih elektabilitas tertinggi karena sudah mencalonkan Joko Widodo sebagai calon presiden PDI-P.

Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan melibatkan 1.200 responden di 33 propinsi. Survei dilakukan dengan wawancara langsung secara tatap muka kepada responden, pada tanggal 19 Maret-29 Maret 2014 dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen dan margin of error sebesar 2,9 persen.


Sumber : KOMPAS.com
Editor : Mas Yudi Dua

Hasil Survei Charta Politika PPP Paling Disukai Publik

Ilustrasi 
Berdasarkan survei yang dilakukan Charta Politika Partai Demokrat (PD) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi dua partai utama yang paling tak disukai masyarakat. 

Sebanyak 17,1 persen responden memilih Partai Demokrat sebagai partai yang paling tak disukai. Sedang PKS di tempat kedua dengan 8,5 persen.

Partai Golkar di tempat ketiga dengan 6,6 persen responden, diikuti PDIP dengan 4,9 persen, PKPI 4,1 persen. Selanjutnya Partai Nasdem dengan 2,7 persen, PBB dengan 2,4 persen, Partai Gerindra 2,1 persen, PKB 1,9 persen, PAN 1,7 persen, Hanura 1,3 persen, dan PPP 1 persen.

Responden yang tidak menjawab adalah 45,8 persen. Wasekjen PD, Saan Mustopa, menyatakan hal itu sebagai akibat dari ruang opini publik bersifat negatif yang terlalu besar ke PD.

"Ini tak terlepas sebagai konsekuensi Partai Demokrat sebagai the ruling party. Partai penguasa pasti dapat perhatian lebih besar dibanding parpol lain. Sekecil apapun itu pasti diperhatikan. Nah ini yang mengisi ruang opini publik," kata Saan.

Survei itu dilakukan dengan metode wawancara tatap muka, dengan populasi responden adalah WNI yang telah mempunyai hak pilih di pemilu (telah berusia 17 tahun ke atas) sebanyak 1.200 responden.

Margin of error penelitian adalah plus minus 2,83 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel dipilih secara acak dengan menggunakan metode penarikan sampel acak bertingkat dengan memperhatikan karakter urban/rural, dan proporsi antara jumlah sampel dengan jumlah pemilih di setiap provinsi. Quality control dilakukan dengan mewawancara ulang responden yang dipilih secara random sebesar 20 persen.



Editor : Mas Yudi Dua