HEADLINE NEWS

HAMPIR TIDAK ADA PARTAI POLITIK WAKILI KEPENTINGAN RAKYAT

HEADLINE NEWS

DUKUNGAN ISTERI UNTUK SURYADHARMA ALI

HEADLINE NEWS

KOMUNITAS BROKER PROPERTI NO. 1 DI INDONESIA

HEADLINE NEWS

INILAH DAFTAR LOKASI GESTUN SELURUH INDONESIA

HEADLINE NEWS

DA VINA WEB, JASA PEMBUATAN WEBSITE ANDA

Kamis, 03 April 2014

"Nasionalisme Prabowo Luar Biasa, Jokowi Belum Teruji"

Prabowo Subianto (kiri) dan Joko Widodo (kanan). (Foto: KOMPAS.com)
Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Borobudur, Faisal Santiago, menilai nasionalisme bakal calon presiden dari PDI Perjuangan, Joko Widodo (Jokowi), belum teruji. Hal itulah yang membuatnya memilih untuk mendukung bakal calon presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto.
"Bukan saya mengecilkan, tapi saya belum melihat, nasionalisme Jokowi belum teruji," kata Faisal di sela-sela acara Deklarasi Dukungan Guru Besar dan Cendekiawan mendukung Prabowo sebagai calon presiden di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Rabu (2/4/2014).
Bagi Faisal, hanya Prabowo yang telah teruji memiliki nasionalisme yang tinggi. Salah satu alasannya ialah karena Prabowo memiliki latar belakang militer, sedangkan Jokowi, kata dia, pengalamannya hanya menjadi kepala daerah. Padahal, menurutnya, untuk memimpin bangsa, perlu pengalaman yang lebih besar dan jiwa nasionalisme yang teruji.
"Nasionalisme Pak Prabowo luar biasa, saya yakin dia enggak akan menjual aset negara," ujarnya.
Ia mengaku hadir dalam deklarasi mendukung Prabowo karena merasa tertarik dengan program yang diusung Partai Gerindra. Pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan dianggapnya sebagai alasan utama yang membuat banyak guru besar mendukung pencapresan Prabowo.
"Prabowo cocok dalam segala hal, beliau gigih dan akan membawa bangsa ini kembali berjaya. Saya berharap indeks sumber daya manusia kita juga akan ditingkatkan," ujarnya.

Sumber : KOMPAS.com
Editor : Mas Yudi Dua

Survei Polcomm: Jokowi, Prabowo, Aburizal Tiga Besar Capres

Joko Widodo (kiri), Prabowo Subianto (tengah), dan Aburizal Bakrie (kanan). (Foto: KOMPAS.com)

Survei "Potret Elektabilitas, Capres-Cawapres dan Mencari Sosok Cawapres Ideal" yang dilakukan Political Communication Institute menempatkan bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Joko Widodo sebagai kandidat capres dengan elektabilitas tertinggi. Jokowi dipilih oleh 31,2 persen responden. Menyusul di belakangnya, bakal capres dari Partai Gerindra Prabowo Subianto (19,2 persen) dan bakal capres dari Partai Golongan Karya Aburizal Bakrie (6,3 persen). 

"Jokowi masih yang tertinggi," ujar Direktur Political Communication Institute Heri budianto, saat memaparkan hasil survei lembaganya, di Jakarta, Kamis (3/4/2014).

Heri mengatakan, berdasarkan survei, yang menjadi magnet kuat bagi elektabilitas Jokowi adalah seringnya dia melakukan blusukan, tampil sederhana, dan bicara apa adanya. Sementara, Prabowo dinilai karena visinya yang ingin menciptakan Indonesia yang lebih kuat. Adapun Aburizal, menurut Heri, dipilih responden karena latar belakangnya sebagai seorang pengusaha dan mantan menteri.

Cawapres Jokowi, Prabowo, dan Aburizal

Sementara itu, mengenai akseptabilitas calon wakil presiden, disurvei sejumlah nama yang dipandang cocok untuk menjadi pendamping Jokowi, Prabowo, dan Aburizal.

Untuk Jokowi, Wakil Presiden 2004-2009 Jusuf Kalla dinilai memiliki akseptabilitas terbaik dengan 14,9 persen. Sementara di urutan kedua dan ketiga adalah Irman Gusman 11,1 persen dan Mahmud MD 10,3 persen. Menurut Heri, responden menilai Jusuf Kalla memiliki pengalaman pemerintahan dan memahami masalah ekonomi, serta respons cepat dalam mengambil keputusan.

Adapun, untuk cawapres Prabowo, nama yang muncul adalah Priyo Budi Santoso dengan 18,5 persen, Dahlan Iskan 13,6 persen, dan Jusuf Kalla 10,4 persen.

Menurut Heri, responden menilai Priyo Budi Santoso adalah tokoh muda, dan berpengalaman d ibidang politik.

Sedangkan Cawapres yang dinilai cocok mendampingi Aburizal Bakrie, menurut responden, adalah Pramono Edhie dengan 12,6 persen, Dahlan Iskan 11,4 persen, dan Ali Masykur Musa 10,3 persen.

"Responden menilai, Pramono yang merupakan mantan Militer, dan juga berasal dari Jawa, cocok dengan Aburizal yang berasal dari sipil dan bukan orang Jawa," ujar Heri.

Adapun, untuk elektabilitas partai, Heri menyebutkan, responden memilih PDI-P (23,1 persen), diikuti Partai Golongan Karya dengan 17,3 persen, dan Partai Gerindra dengan 7,7 persen. Heri mengatakan, berdasarkan hasil survei, PDI-P mampu meraih elektabilitas tertinggi karena sudah mencalonkan Joko Widodo sebagai calon presiden PDI-P.

Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan melibatkan 1.200 responden di 33 propinsi. Survei dilakukan dengan wawancara langsung secara tatap muka kepada responden, pada tanggal 19 Maret-29 Maret 2014 dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen dan margin of error sebesar 2,9 persen.


Sumber : KOMPAS.com
Editor : Mas Yudi Dua

Hasil Survei Charta Politika PPP Paling Disukai Publik

Ilustrasi 
Berdasarkan survei yang dilakukan Charta Politika Partai Demokrat (PD) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi dua partai utama yang paling tak disukai masyarakat. 

Sebanyak 17,1 persen responden memilih Partai Demokrat sebagai partai yang paling tak disukai. Sedang PKS di tempat kedua dengan 8,5 persen.

Partai Golkar di tempat ketiga dengan 6,6 persen responden, diikuti PDIP dengan 4,9 persen, PKPI 4,1 persen. Selanjutnya Partai Nasdem dengan 2,7 persen, PBB dengan 2,4 persen, Partai Gerindra 2,1 persen, PKB 1,9 persen, PAN 1,7 persen, Hanura 1,3 persen, dan PPP 1 persen.

Responden yang tidak menjawab adalah 45,8 persen. Wasekjen PD, Saan Mustopa, menyatakan hal itu sebagai akibat dari ruang opini publik bersifat negatif yang terlalu besar ke PD.

"Ini tak terlepas sebagai konsekuensi Partai Demokrat sebagai the ruling party. Partai penguasa pasti dapat perhatian lebih besar dibanding parpol lain. Sekecil apapun itu pasti diperhatikan. Nah ini yang mengisi ruang opini publik," kata Saan.

Survei itu dilakukan dengan metode wawancara tatap muka, dengan populasi responden adalah WNI yang telah mempunyai hak pilih di pemilu (telah berusia 17 tahun ke atas) sebanyak 1.200 responden.

Margin of error penelitian adalah plus minus 2,83 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel dipilih secara acak dengan menggunakan metode penarikan sampel acak bertingkat dengan memperhatikan karakter urban/rural, dan proporsi antara jumlah sampel dengan jumlah pemilih di setiap provinsi. Quality control dilakukan dengan mewawancara ulang responden yang dipilih secara random sebesar 20 persen.



Editor : Mas Yudi Dua

Selasa, 01 April 2014

Prabowo : Koruptor Takut Dengan Kehadiran Gerindra

Prabowo Subianto (Davinanews.com)
Capres Gerindra Prabowo Subianto meminta warga di Gunung Kidul, Yogyakarta untuk tidak golput pada Pemilu 9 April mendatang. Menurutnya, kalau tidak mencoblos sama saja membantu penjahat koruptor menguasai legislatif.
Prabowo juga menghimbau jika ada caleg atau partai yang memberikan duit saat pencoblosan sebaiknya diterima karena duit yang dipakai adalah duit rakyat.
“Uang rakyat itu mereka curi. Jangan coblos pilih mereka. Ambil uangnya kalau diberi. Itu uang kalian sendiri. Biar mampus mereka. Mereka takut sama Gerindra karena Prabowo tahu cara mereka,” ujarnya.
“Kalian terima duitnya karena itu uang kalian sendiri. Uang rakyat yang dikorupsi. Tapi, ambil duitnya tetap pilih Gerindra,” kata Prabowo dalam orasinya di Lapangan Desa Gading, Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, Sabtu (29/3/2014).
Prabowo menambahkan kalau para koruptor takut dengan kehadiran Gerindra yang siap menangkap para penjahat pencuri uang negara. Dia siap memberantas bersih para pelaku koruptor dan memberikan hukuman yang keras.
Prabowo pun berharap masyarakat tidak mudah dibohongi dengan para koruptor yang merayu dengan uang saat Pemilu nanti.
Sumber: wartaharian.co

**** VIDEO KOPDAR #4 SBC ****