Selasa, 16 Juli 2013

MotivAsyik Ramadhan Kareem #5 : Cerita Segelas Air dan Segenggam Garam

Ilustrasi
Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung masalah.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan masalahnya.
Pak Tua yang bijak, mendengarkanya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam & meminta tamunya untuk mengambil segelas air.
Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba, minum ini & katakan bagaimana rasanya?”, ujar Pak tua itu.
“Asin, asin sekali,” jawab sang tamu, sambil meludah ke samping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum.
Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga.
Sampai telaga Pak tua itu, kembali menaburkan segenggam garam.

Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang dengan mengaduk-aduk “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah.”
Pak tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”. “Segar”, sahut tamunya.
‘Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?’, tanya Pak tua lagi.
‘Tidak’, jawab si anak muda.
Pak tua berkata “Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang.

Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama & memang akan tetap sama.”
“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.

Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung hati kita.

Jadi, saat Anda merasakan kepahitan & kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.

Luaskanlah hatimu untuk menampung semua kepahitan itu.”
Pak tua itu kembali memberikan nasehat.

“Hatimu adalah Wadah itu.
Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas.
Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran & kebahagiaan.”

MotivAsyik
Ramadhan Kareem #5

Wahyudi Sudiyono
Founder MotivAsyik

Follow me on twitter :
@WahyudiSudiyono
Like me on facebook :
www.WahyudiSudiyono.com

Berita Davina

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Pedoman Komentar

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik.
Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu.

Komentar yang baik, berikan jempol atas.

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik.

Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar :)