Senin, 12 November 2012

Dahlan: Banyak wirausaha ingin sukses dengan instan


"Penyakit yang terbesar adalah ingin cepat-cepat banyak bisnis dan cerita kepada temannya. Tidak boleh begitu, usaha itu harus tetap fokus."
- Dahlan Iskan
Menteri BUMN Dahlan Iskan bercerita mengenai bagaimana menjadi seorang pengusaha sejati. Menjadi pengusaha harus siap mental dan tahan banting. Menurut Dahlan, para pengusaha pemula akan menemukan hambatan yang luar biasa di awal usahanya.
"Pengusaha pemula harus tahan banting yang luar biasa. Yang terbaik adalah tumbuh wajar kemudian ditekuni," kata dia saat menjadi pembicara di Global Entrepreneurship Week di Gedung BI, Jakarta, Senin (12/11).
Menurut Dahlan, penyakit pengusaha pemula adalah ingin membesarkan usahanya secara instan. Menurut Dahlan, membesarkan usaha dengan instan akan membuat jatuh lebih sakit ketika dihantam suatu masalah.
"Penyakit yang terbesar adalah ingin cepat-cepat banyak bisnis dan cerita kepada temannya. Tidak boleh begitu, usaha itu harus tetap fokus," jelasnya.
Dahlan menyarankan untuk para pengusaha pemula harus fokus menjalankan suatu usahanya dan tidak boleh bercabang dan ingin cepat kaya. "Kalau tidak fokus itu namanya musyrik wiraswasta masuk neraka juga yaitu gagal, bangkrut, macet," ucap Dahlan.
Dahlan juga sedikit bercerita ketika dia masih muda dan menjalankan usahanya dari bawah dan harus bekerja keras. "Masih muda saya jam 3 pagi sudah di kantor lagi. Saya pulang jam 9 malam. Waktu itu saya masih muda. Habis-habisan fokus satu bidang saja," pungkasnya.
Seperti yang telah diketahui, Dahlan yang dulunya adalah wartawan majalah Tempo diberi tugas untuk menghidupkan kembali koran Jawa Pos yang telah mati. Waktu itu Dahlan baru berusia 31 tahun. dahlan sukses menaikkan oplah surat kabar tersebut menjadi 300.000 eksemplar dalam waktu 5 tahun. Mulanya Jawa Pos hanya mempunyai oplah 6.000 eksemplar.


Editor: Yudi Dwi Ardian
Sumber : 

Berita Davina

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Pedoman Komentar

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik.
Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu.

Komentar yang baik, berikan jempol atas.

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik.

Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar :)