Football Comes Home! (Again)

Jumat, Juni 29, 2012 0 Comments



Lafen Nassya Firanda
It’s coming home, it’s coming home, it’s coming, football’s coming home


Itulah sedikit penggalan lagu “Three Lions” yang dirilis tahun 1996 untuk mendukung timnas Inggris di Piala Eropa 1996.


Lagu ini menceritakan tentang impian para fans The Three Lions yang tidak pernah berhenti untuk mendukung tim ini walaupun selalu gagal dalam turnamen besar sejak terakhir kali menjadi juara Piala Dunia tahun 1966, ketika itu Piala Dunia pun masih memakai nama Piala Jules Rimet.


Inggris selalu mempunyai harapan agar prestasi itu bisa terulang lagi. Kemudian klaim mereka sebagai “penemu” sepak bola modern membuat mereka membuat slogan “football comes home” pada piala Eropa tahun itu mengingat Inggris menjadi tuan rumah sebuah turnamen sepak bola besar.


Slogan football comes home ternyata tidak membuat peruntungan Inggris berubah. Pada piala Eropa 1996 Inggris harus kalah di semifinal melawan Jerman lewat drama adu penalti. Gareth Southgate membuka gerbang buat Jerman ke podium selatan stadion Wembley untuk menjadi juara karena kegagalannya mengeksekusi penalti.


Tahun ini timnas Inggris mengawalinya dengan pengunduran diri Fabio Capello dari jabatannya sebagai manajer timnas, penggantinya adalah Roy Hodgson, pelatih yang mempunyai catatan sukses membawa tim medioker menjadi tim yang diperhitungkan di Liga Inggris, namun ketika melatih tim besar prestasinya tidak begitu mengkilat.


Inilah yang menimbulkan rasa pesimis dari banyak football pundit terhadap kehadirannya untuk menangani timnas besar seperti Inggris. Inggris di bawah Roy Hodgson di Euro tahun ini disebut sebagai tim terburuk dengan ekspektasi menjadi juara terendah dalam dua puluh tahun terakhir.


Permainan Inggris di bawah Roy Hodgson semakin jauh dari yang namanya kick n’ rush yang dulunya sangat populer sebagi tipikal permainan Inggris selama ini. Seolah ingin mencontoh kesuksesan Chelsea menjuarai Liga Champions dengan cara bermain bertahan, Roy Hodgson langsung meng-copy-paste taktik bertahan Roberto Di Matteo ini ke permainan Inggris.


Tanpa keraguan Roy Hodgson langsung menerapkannya pada pertandingan pertama mereka melawan Prancis. Sempat mengejutkan lewat gol Joleon Lescott lewat tipikal gol tim dengan permainan bertahan yaitu lewat set-piece, Prancis langsung membalas lewat gol Samir Nasri lima belas menit kemudian.


Mereka akhirnya sanggup mencatatkan kemenangan ketika melawan Swedia pada pertandingan kedua dengan skor 3-2, setelah itu mereka melawan tim tuan rumah Ukraina dalam pertandingan penentuan grup D.


Pertandingan ini menimbulkan kontroversi setelah gol pemain Ukraina Marko Devic tidak disahkan oleh asisten wasit khusus yang menjaga garis gol, padahal dalam tayangan ulang pada saat John Terry membuang bola, bola tersebut telah melewati garis gawang dan seharusnya membuahkan gol buat Ukraina. Inggris akhirnya menang 1-0 terlepas dari keputusan kontroversial ini dan penguasaan bola yang dikuasai Ukraina (57%-43%). Permainan bertahan setelah mencetak gol tetap diterapkan oleh Roy Hodgson.


Dengan menjadi juara grup akibat kekalahan Prancis dari Swedia, Inggris melawan tim ketika permainan bertahan yang sering disebut sebagai “catenaccio” itu lahir yaitu Italia. Catenaccio sendiri sudah jarang dipakai sebagai istilah permainan bertahan, istilah tersebut sudah dianggap sangat kuno dengan permainan sepak bola yang telah berkembang.


Istilah catenaccio sekarang lebih populer disebut sebagai taktik “parkir bus, parkir pesawat, parkir Hulk” pokoknya apa pun istilahnya asalkan diawali dengan kata “parkir”. Tentunya taktik ini dianggap sebagai “pembunuh” sepakbola karena begitu menjemukannya tim yang menerapkan taktik ini. Bertahan sekuat mungkin dan mengharapkan counter attack dari kesalahan tim lain.


Sangat miris apabila melihat pertandingan Italia melawan Inggris yang didominasi Italia. Disparitas sangat terlihat dari total 35 tembakan dari Italia berbanding 9 yang dimiliki Inggris selama 120 menit. Apabila bukan karena aksi heroik Joe Hart yang jatuh bangun melindungi gawang dan memberikan 45 kali passing (paling banyak dibandingkan Steven Gerrard sekalipun), kemudian juga sedikit bantuan dari “teman-temannya” yang lain yaitu mistar dan tiang gawang mungkin Inggris cuman menderita selama 90 menit saja.


Gaya menyerang ala kick n’ rush telah hilang dari mereka, permainan pragmatis untuk mengincarcounter attack terus diterapkan selama 90 menit penuh. Sedikit sekali peluang yang mereka dapatkan dalam pertandingan ini sampai-sampai Wayne Rooney harus mengaktifkan “Shrek mode” nya karena kekuatan staminanya untuk menutup seluruh lapangan Inggris, baik menyerang maupun bertahan.


Melihat kondisi stamina mereka yang sudah terkuras habis karena terus bertahan selama itu, mengharapkan keberuntungan di perpanjangan waktu dan mengincar “adu lotere” adalah pilihan terakhir bagi Inggris untuk menang.


Dalam adu penalti Inggris sempat unggul dari Italia 2-1 setelah tendangan Ricardo Montolivo melebar di sebelah kanan Joe Hart. Dan setelah itu tiba saatnya sang maestro bola mati Andrea Pirlo yang mengeksekusi penalti. Mungkin Joe Hart tidak sadar apabila Pirlo adalah seorang illusionis set-piece yang mempunyai teknik-teknik ilusi yang tidak pernah dibeberkannya. Dengan teknik chip penalti ala Antonio Panenka, Andrea Pirlo mengecoh Joe Hart.


Pada saat konferensi pers Joe Hart untuk membela dirinya mungkin harus mengatakan “Saya tidak pernah melihat teknik itu sebelumnya pada video-video penalti yang pernah saya tonton, ini adalah teknik sulap! bahkan masked magician di acara breaking the magician’s code pun tidak pernah mau membongkarnya.”


Kekalahan Inggris di Euro 2012 ini setidaknya membuat lega para penikmat sepak bola yang sangat khawatir apabila “tragedi” tim Yunani di Euro 2004 terulang kembali, ketika tim yang bertahan total dalam enam pertandingan Euro justru menjadi juara.


Bung Karno pernah mengatakan “jangan sekali-sekali melupakan sejarah” (Jas Merah) yang sekarang justru menjadi nilai dasar PSSI. PSSI selalu membanggakan sejarah lama mereka yaitu “prestasi” menahan seri Uni Soviet pada tahun 60an yang saat itu masih diperkuat oleh kiper legendaris Lev Yashin. Timnas Inggris sekarang juga seperti itu. Prestasi mereka sebagai juara Piala Dunia 1966 selalu menjadi kebanggaan mereka.


Pada akhirnya football comes home menjadi suatu sindiran buat timnas Inggris, orang tidak akan peduli bahwa Inggris adalah penemu sepak bola. Orang akan lebih peduli dengan prestasi apa yang bisa dicapai negara sepak bola ini. Football comes home bisa diubah menjadi “champions comes home” agar bisa memotivasi mereka menjadi tim juara.


Dan terakhir mungkin terdengar sedikit satir, saya sekarang mengerti kenapa Roy Hodgson tidak memanggil pemain bertipe keras dan karismatik seperti Emile Heskey dan Joey Barton ke dalam skuatnya, karena dengan kekeraskepalaan mereka Heskey dan Barton tidak mungkin mau diajak bermain bertahan, permainan mereka terlalu agresif untuk Inggris yang sangat defensif sekarang.



Lafen Nassya Firanda
Mahasiswa

Berita Davina

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

Google+ Followers

Tentang DaVinaNews.com

Davinanews.com Diterbitkan oleh Da Vina Group Davinanews.com adalah situs berita dan opini yang memiliki keunggulan pada kecepatan, ketepatan, kelengkapan, pemilihan isu yang tepat, dan penyajian yang memperhatikan hukum positif dan asas kepatuta Davinanews.com memberikan kesempatan kepada para pembaca untuk berinteraksi. Pada setiap berita, pembaca bisa langsung memberikan tanggapan. Kami juga menyediakan topik-topik aktual bagi Anda untuk saling bertukar pandangan. Davinanews.com menerima opini pembaca dengan panjang maksimal 5.000 karakter. Lengkapi dengan foto dan profil singkat (beserta link blog pribadi Anda). Silakan kirim ke email: davinanews@yahoo.com.