Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin. (sumber: Antara)
Imbas dualisme kepengurusan dan liga menjerat pemain

Para pemain sepakbola profesional di Indonesia mengatakan dualisme kompetisi dan organisasi yang terjadi di induk organisasi sepak bola nasional membuat para pemain menjadi sulit.

Ketua Umum Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) Ponaryo Astaman di Jakarta hari ini mengatakan para pemain berharap setelah persoalan organisasi terselesaikan maka ke depannya hanya akan ada satu kompetisi liga yang bernaung di bawah PSSI.

"APPI mengharapkan dan mendukung adanya satu liga dalam satu kepengurusan federasi di Indonesia yang diakui secara sah di bawah naungan FIFA untuk mengelola persepakbolaan Indonesia secara profesional," ujarnya.

Sejumlah anggota APPI menggelar pertemuan untuk membahas kondisi terkini terkait dengan adanya dualisme kompetisi dan dualisme organisasi yakni PSSI pimpinan Djohar Arifin dan pengurus PSSI pimpinan La Nyalla Mattalitti sebagai hasil Kongres Luar Biasa yang dihadiri 81 pemilik suara yang sah.

Ditegaskannya, para pemain sepak bola profesional yang tergabung dalam APPI berharap agar persoalan bisa cepat terselesaikan, apabila tidak, maka nasib pemain pun menjadi tidak menentu.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari 13 klub Liga Primer Indonesia (IPL) dan beberapa klub Indonesia Super League (ISL) yang saling mengungkapkan buah pikirannya dalam mengamati perkembangan terakhir, dimana PSSI di bawah pimpinan Djohar Arifin tengah terancam dijatuhi sanksi oleh FIFA dengan batas waktu 15 Juni mendatang.

Anggota APPI pun kemudian mengeluarkan pernyataan sikapnya bahwa mereka mengkhawatirkan perkembangan sepak bola di Indonesia yang tidak lagi kondusif dan semakin merugikan pemain.

Secara terpisah, gelandang Sriwijaya FC, Firman Utina mengatakan persoalan yang terjadi di tubuh federasi sepakbola saat ini sangat menyudutkan keberadaan para pemain.

Tidak hanya persoalan keuangan, nasib para pemain juga terancam suram dengan adanya kisruh tersebut.

"Imbasnya sangat banyak, seperti persoalan gaji pemain yang semakin sulit seiring belum menentunya persoalan federasi. Kemudian, jika nantinya memang ada satu liga yang harus dibubarkan, itu berarti juga yang jadi korban para pemainnya. Ini yang kami bicarakan untuk kami sampaikan kepada federasi," kata Firman.

Firman menambahkan imbas dari dualisme kepengurusan dan dualisme penyelenggaraan liga sudah sangat menjerat para pemain, di mana gaji para pemain sering tidak terbayarkan tepat waktu dan terancam tak lagi memperoleh klub baru jika berseberangan dengan kebijakan klub.